Hari Itu

 





Hari Itu

 

Siang itu terasa sejuk. Awan-awan putih bergulung di langit, sedikit menutupi terik mentari siang itu. Angin bertiup lembut menenangkan, mengarak awan-awan putih bak gumpalan kapas lembut itu ke utara, menggelitik dedaunan pucuk merah yang berderet rapi.

Di bawah kajang biru ramai orang berkumpul, duduk rapi memenuhi barisan kursi itu. Mereka adalah para siswa yang mengikuti Olimpiade Sains beserta guru pendamping nya, menantikan pengumuman peserta yang akan lolos ke tahap final. Para peserta itu pasti merasa gugup, meski ada sebagian yang tenang karena yakin pasti akan lolos ke final. Di Olimpiade Sains ini ada tiga cabang olimpiade, matematika, fisika, dan kimia.

"Deg-degan banget." Aku menggenggam tangan Zara, teman yang duduk disebelah kiriku.

"Sama. Semoga kita lolos ya." Balasnya, ia ikutmeliha menggenggam tanganku.

"Aamiin."

 

Di urutan terakhir, namaku disebut sebagai peserta di cabang Fisika. Ya, aku berhasil lolos ke final. Dan Zara lolos di cabang matematika. Kami berpelukan sesaat, berucap syukur, dan saling memberi ucapan selamat. Aku senang. Tidak, aku sangat senang. Aku menoleh kearah Hana yang duduk disamping kananku, aku terdiam. Aku bingung harus bersikap bagaimana begitu melihat ekspresi itu. Ekspresi kecewa, kesal, malu, mungkin juga amarah dan kebencian. Entahlah, aku tak tahu. Dan saat itu aku juga tak punya keberanian untuk bertanya padanya.

Aku mengalihkan pandangan ke arah lain, Kak Sarah, salah seorang senior mengucap selamat padaku. Aku mengajaknya untuk melihat hasil babak sebelumnya. Ia mengangguk dan menarikku menuju ke papan pengumuman. Cukup ramai disana. Kami berjalan menembus keramaian, hati-hati agar tak menabrak orang.

Tiba-tiba, Kak Sarah berhenti, dan aku hampir menabraknya.

"Gimana hasilnya?" Tanya seseorang kepada Kak Sarah.

Kak Sarah menjawab dengan menggelengkan kepala, "kamu?" ia balik bertanya.

"Kurang satu" jawab orang itu. Ketika aku menoleh mencari siapa yang berbicara dengan Kak Sarah, aku terpaku.

 

Ya Tuhan. Sesaat lamanya aku terpaku. Cepat-cepat aku menggeleng, menyadarkan diriku kembali. Tak lama kemudian tatapan kami bertemu. Aku menatapnya. Menatap senyumnya, senyum yang membuatku terpaku sesaat lamanya.

Kak Sarah menarik tanganku lagi menuju papan pengumuman. Begitu melihat hasil yang ditempel, aku melihat namaku di urutan terakhir. Tapi aku malah memikirkan 'kurang satu' itu.

"Tadi maksudnya 'kurang satu' itu apa kak?" tanyaku pada Kak Sarah.

"Maksudnya dia di peringkat sebelas, hampir lolos" jawab Kak Sarah singkat.

Aku melihat kertas pengumuman lagi, ternyata hanya sepuluh peserta yang lolos ke final pada tiap cabang lomba. "Ohh, dia peringkat sebelas" gumamku.

Malam hari setelah olimpiade berakhir, aku merebahkan diri di kasurku. Lelah. Aku tak berbicara sepatah kata padanya, kami sama-sama menghindar.

'Apa dia marah padaku? Marah karena aku yang lolos? Mungkinkah dia mengira aku sombong hanya karena lolos ke final?'

 

Huufftt. Aku menghela nafas. "Kuharap Hana baik-baik saja, kuharap hubungan kami tidak hancur." bisikku sebelum tertidur.

Aku coba memejamkan mata, namun terlintas lagi kejadian singkat itu. Saat aku terpaku karena senyum itu.

'Mana mungkin dia senyum ke arahku, pasti tersenyum pada senior' aku berusaha menenangkan diri, menebak segala kemungkinan yang terjadi.

'Ya, itu benar, mana mungkin senyum padaku, memangnya dia kenal aku, atau bisa saja dia tersenyum pada orang lain di belakangku, atau dia hanya orang yang murah senyum.'

Akan tetapi hatiku berdebar semakin cepat.

Mungkin aku takkan melupakan hari itu. Hari dimana hubungan pertemananku merenggang. Dan hari dimana duniaku kacau karena sebuah senyuman. Sebuah senyum yang mengacaukanku selama bertahun-tahun.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Pustakawan Bukan Cuma Jagain Buku

PERAN PUSTAKAWAN DALAM MENUMBUHKAN MINAT BACA DI ERA DIGITAL

Cinta Dalam Ikhlas, Review Novel