Terakhir?
Sudah setengah jam lebih Maria menatap layar ponselnya yang menampilkan room chat dengan Noah. Sesekali tangannya meraih ponsel itu dan mulai mengetikkan pesan, kemudian buru-buru dihapus lagi. Begitu terus, dua kali, tiga kali.
"Iya nggak ya?" Maria bimbang untuk
mengajak Noah bertemu sebelum upacara kelulusan esok hari. "Dahlah,
daripada nyesel karena gak jadi, kan?" akhirnya Maria memantapkan hati
untuk mengajak Noah bertemu.
‘Noah,
bisa ketemuan sebentar? Gue mau balikin buku-buku nyokap lu yang ternyata masih
gue bawa, oh iya flashdisk lu juga.’
Deg-degan Maria setelah mengirimkan pesan itu.
'Ohh,
bisaa, mau ketemu dimana?' balas Noah seperempat jam
setelahnya.
'Di
Renjana aja, jam 7 ya!'
Maria menghela nafas, sedikit lega setelah
memberanikan diri. Maria melirik jam dinding menunjukkan pukul lima dua puluh
sore, masih ada waktu untuk bersiap. Maria beralih ke lemari pakaiannya yang
hampir kosong, sebagian besar memang sudah dikemas kedalam koper, karena memang
sebentar lagi ia akan kembali ke kotanya. Karena masa studinya di kampus ini
juga telah selesai, hanya tinggal menunggu upacara kelulusan esok hari.
Kali ini Maria bingung baju apa yang sebaiknya ia
pakainya nanti. "Yang ini bagus, tapi keliatan terlalu niat buat
ketemuan" ucapnya ketika melihat ... "Yang ini juga terlalu
biasa"
"Yang kelihatan rapih, tapi ga terlalu rumit,
tapi bikin berkesan, mana ya?" Maria masih memilih baju. Akhirnya pilihan
jatuh pada kaos abu-abu dengan outer bermotif bunga daisy.
Jarum jam menunjukkan pukul enam lima puluh tujuh,
Maria sudah sampai di kafe Renjana, coffee
shop yang terletak tidak jauh dari kampus. Dan sekarang Maria duduk
menunggu Noah di salah satu meja di lantai dua kafe. Maria sengaja memilih
tempat outdoor, supaya bisa melihat
langit malam, katanya. Maria menatap langit kota malam itu, cantik sekali.
Bintang gemintang bertaburan menghiasi, purnama pun tampak temaran diatas sana.
‘Jahat
sekali’ gumamnya, ‘kenapa
semesta secantik ini di hari seperti ini?’
Maria meletakkan totebag nya di kursi kosong di
sebelah kirinya. Totebag yang berisi tiga buku yang ia pinjam dari Bu Fatma,
ibunya Noah. Ting..,notif pesan masuk
di ponsel Maria.
‘dimana?’
tanya Noah dalam pesan itu. Maria baru ingat kalau ia belum memberitahu Noah
bahwa ia sudah menunggu di Renjana.
‘gue
udah di Renjana, lantai dua, bagian balkon ya’
balasnya. Maria meletakkan poselnya lagi, beralih ke daftar menu yang tersedia
di meja. Tak berselang lama, ia mendengar suara langkah kaki menaiki tangga,
Maria menengok kearah suara dan benar saja, Noah muncul. Terlihat matanya
menyapu seluruh ruangan. Maria diam, menunggu tatapan mata itu mengarah
padanya. Maria melambaikan tangan begitu tatapan Noah tertuju kearahnya, Noah
segera menghampiri meja diujung balkon itu. Samar-samar ujung bibirnya sedikit
tertarik keatas.
“Udah nunggu lama?” tanya Noah setelah ia menaruh
jaket abu-abu yang tadi ia kenakan di kursi kosong disebelahnya.
“Nggak kok” jawab Maria sambil mempersilakan Noah
untuk duduk dengan nyaman. “Oh iya, lu udah makan? Kalau belum mau sekalian
pesen?”
“Lu belum pesen apa-apa?” Noah mengitarkan
pandangannya lagi, kafe malam itu tidak terlalu ramai, yah karena ini bukan weekend, begitu pikirnya
“Iya, belum. Gue juga belum lama dateng, baru liat
menu terus lu dateng deh. Mau pesen juga?”
“Boleh deh, lychee
tea aja” jawabnya tanpa perlu melihat menunya.
Maria memanggil seorang waitress, dan menyebutkan
pesanan mereka.
“Baik kak, jadi pesanannya matcha berry latte satu, lychee
tea satu, ada lagi?”
Maria menggeleng, begitu juga Noah. “Baik kak, mohon
ditunggu sebentar ya!” waitress itu pergi meninggalkan meja mereka berdua.
Komentar
Posting Komentar